Kilastimur.com – Jakarta – Siapa bilang negeri ini miskin. Sangat kaya. Sebagai bukti nyata, negeri kekuasaan Prabowo ini resmi membeli 48 pesawat tempur KAAN buatan Turki. Nilai duitnya Rp160 – 163 triliun. Lebih jelasnya, simak narasinya sambil seruput kopi tanpa gula, wak!
Indonesia akhirnya memutuskan ikut “pameran mainan mahal” dunia dengan membeli 48 jet tempur generasi kelima KAAN dari Turki. Harganya? Sekitar US$ 10 miliar—alias Rp 160–163 triliun. Nilai segitu kalau dibelanjakan buat nasi padang, seluruh rakyat Indonesia bisa makan rendang tiga kali sehari sampai cicit kita kuliah. Tapi pemerintah memilih menu lain, menaruh uangnya di langit. Harapannya, supaya kalau ada yang nyelonong masuk wilayah udara kita, mereka bisa langsung disambut “burung besi Ottoman” yang terbangnya lebih cepat dari gosip artis di media sosial.
KAAN ini bukan pesawat ecek-ecek. Dia pakai dua mesin, bukan satu seperti F-35 buatan Amerika atau Rafale buatan Prancis. Ibarat motor, F-35 itu Vespa matik mahal, Rafale itu motor sport elegan, dan KAAN itu truk kontainer bersayap, bertenaga, besar, dan sanggup bawa beban internal sampai 10 ton. F-35 cuma 6 ton, Rafale apalagi. Artinya, KAAN bisa angkut rudal, sensor, cadangan senjata, bahkan kalau mau, stok mie instan untuk satu skuadron.
Dari segi gaya, KAAN ini stealth. Desainnya bikin radar musuh “bingung” seperti mantan yang tiba-tiba lihat kita naik mobil baru. Plus, dia punya supercruise, terbang di atas kecepatan suara tanpa afterburner. Bahasa gampangnya, bisa ngebut tanpa boros bensin. Radius tempurnya 1.100–1.200 km, cukup buat “jalan-jalan” ke perbatasan, bikin heboh, lalu pulang sebelum jemuran kering di rumah keburu diambil ayam.
Lawan terdekatnya, F-35, memang punya sistem sensor fusion canggih, tapi lebih banyak bergantung sama spare part dan restu Amerika. Rafale? Cantik, lincah, cocok untuk gaya di parade militer, tapi tetap pesawat “generasi 4++” yang kalau masuk bar generasi 5 mungkin disuruh nunjuk KTP dulu. KAAN memadukan gengsi stealth ala F-35, muatan beban ala Hercules, dan potensi teknologi lokal Turki yang katanya bakal ditransfer ke Indonesia.
Negeri Zahra Gunes ini tentu senyum lebar. Ini ekspor pertahanan terbesar mereka. Indonesia pun bisa tepuk dada, kita nggak lagi cuma jadi pembeli barang second. Mulai 2028, KAAN akan mengudara di langit Nusantara. Bayangin, nelayan di Natuna melaut pagi-pagi, lalu di atasnya lewat pesawat dua mesin bersayap siluman. Dia melambaikan tangan, sambil mikir, “Itu duit pajak gue yang terbang.”
Tapi di warung kopi, percakapan jauh lebih filosofis. “Rp 160 triliun buat pesawat? Jalan depan rumah masih kayak jalur off-road Dakar Rally,” keluh seorang bapak sambil nyeruput kopi. Yang lain menimpali, “Kalau perang, KAAN bisa bawa beras nggak? Kalau nggak, mending beli truk aja banyak-banyak.” Ada juga yang nyelutuk, “Biarin, yang penting kalau ada negara nyelonong, kita bisa sambut pakai jet stealth, bukan pakai surat teguran RT.”
Inilah dilema nasional, di langit, 1,8 Mach adalah kebanggaan. Di darat, 18 km/jam di jalan macet adalah penderitaan. KAAN jadi simbol ambisi besar, apakah itu langkah visioner atau mimpi mahal, tergantung siapa yang tanya. Yang jelas, saat mesin gandanya meraung di atas kepala kita nanti, entah kita mau tepuk tangan atau tepuk jidat, satu hal pasti, suara itu akan jadi lagu baru di langit Indonesia, lagu yang dibeli dengan harga yang bikin dompet negara megap-megap, tapi tetap membuat hati berdebar antara bangga dan… sedikit miris.
Kalau sebuah negara sampai beli pesawat tempur super canggih hanya demi gengsi, padahal rakyat rekeningnya sering diblokir, 7,28 juta pengangguran, 66,6% penduduk miskin, jalan rusak parah 127.387 km, ruang kelas SD rusak berat 10,81% sekitar 127.558 kelas, itu artinya kita sedang belajar bahwa kemajuan teknologi tanpa kemajuan akal sehat hanyalah seperti burung merak, indah di udara, tapi lupa kalau di darat masih banyak yang kelaparan.
LP : Gw

