Kilastimur.com – Makassar – Kepala Sekolah SMP Negeri 22 Makassar, Dr. Hj. Salmah, M.Pd., akhirnya angkat bicara terkait isu dugaan penjualan Lembar Kerja Siswa (LKS) serta kondisi toilet sekolah yang sempat menjadi sorotan. Ia menegaskan bahwa sekolah tidak pernah menjual LKS dan saat ini tengah berupaya meningkatkan fasilitas demi kenyamanan siswa. (09/03/2025)

Isu ini mencuat setelah Ketua LSM Gempa, Amiruddin Karaeng Tinggi, SH., menerima laporan dari seorang wali murid yang mengaku rutin membayar sejumlah uang setiap semester untuk LKS. Selain itu, investigasi lapangan menemukan beberapa toilet yang dinilai tidak layak, seperti toilet perempuan yang tidak memiliki pintu dan toilet laki-laki yang kekurangan air.
Menanggapi hal tersebut, Dr. Hj. Salmah menegaskan bahwa sekolah tidak pernah menjual atau mewajibkan siswa membeli LKS. “Kami tidak pernah melakukan penjualan LKS di dalam Sekolah silahkan pinjam buku paket di perpustakaan . Bagi siswa yang tidak mampu, mereka bisa menyalin dari buku yang telah disediakan sekolah,” tegasnya.
Terkait kondisi toilet, Salmah mengakui bahwa sebelumnya memang ada beberapa fasilitas yang mengalami kerusakan. Namun, saat ini pihak sekolah sedang melakukan perbaikan, termasuk pembangunan septic tank baru. “Sekolah ini terus berkembang. Dulu jumlah siswa hanya 500 orang, kini sudah mencapai 1.209. Kami terus berbenah, termasuk menambah toilet baru dan memasang kanopi untuk kenyamanan siswa,” jelasnya.
Salah satu siswa SMPN 22 Makassar, Inisial (NPA), juga membenarkan bahwa tidak pernah ada penjualan LKS di dalam sekolah. “Kalau ingin membeli bisa dengan mencari referensi
pada tempat lain yang menjual LKS,” ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa toilet sekolah saat ini sudah diperbaiki, termasuk pemasangan pintu yang sebelumnya rusak akibat ulah beberapa siswa yang menendangnya.
Lebih lanjut, Salmah menegaskan bahwa sekolah mengelola dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) secara transparan dan sesuai aturan. “Dana BOS digunakan untuk membeli buku paket sesuai kurikulum, sehingga siswa tidak perlu membeli sendiri,” tambahnya.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap siswa dari keluarga kurang mampu, SMPN 22 Makassar juga memiliki program bantuan, mulai dari seragam hingga perlengkapan sekolah. “Jika ada siswa yang kesulitan, mereka bisa langsung melapor ke saya. Kami siap membantu,” ujarnya.
Salmah pun menambahkan bahwa, bagi siswa yg kurang mampu mereka bisa menyalin dari buku yg disediakan, siswa di berikan buku paket sejumlah 11 mapel sesuai buku yg ada di perpustakaan yg di beli dari dana bos
Di akhir pernyataannya, Salmah menegaskan bahwa sekolahnya akan terus berkolaborasi dengan masyarakat dan media untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang nyaman dan berkualitas. “Kami ingin SMP Negeri 22 Makassar menjadi sekolah yang berprestasi dan membangun karakter siswa yang berakhlak mulia. Dengan kerja sama semua pihak, insyaallah kita bisa mewujudkannya,” pungkasnya.
Editor : Andhis Hamzah

